
“Kalau nggak ada yang beli sapu, ya pulang cuma bawa lelah aja…”

Kalimat itu lirih keluar dari mulut seorang kakek berusia 105 tahun, yang tubuhnya sudah membungkuk, napasnya tersengal, namun tetap memikul dagangan di punggungnya. Ia adalah Abah Awang, penjual sapu keliling, yang setiap hari berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilo, hanya untuk menjual sapu buatan tangannya seharga Rp5.000.

Namun siapa hari ini yang masih membeli sapu lidi? Sering kali, sapu-sapu itu hanya kembali ke gubuk reyot tempat ia tinggal bersama istrinya. Gubuk itu berdiri di atas tanah orang tanah yang bisa diambil kapan saja.

Dan ketika tidak ada uang, singkong rebus dan daun singkong jadi penyelamat perut mereka yang keroncongan. Kadang hanya nasi sisa semalam, ditambah kecap dan air hangat. Tapi yang paling memilukan, bukan hanya kelaparan.

Abah hanya bisa pasrah, kalau tanah tempat ia berpijak hari ini tiba-tiba diminta kembali. Ia tak tahu harus membawa istrinya ke mana. Tak ada rumah lain. Tak ada keluarga lain. Hanya doa dan zikir yang ia genggam erat saat lapar mulai menyiksa. "Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah…"
Suara itu lirih tapi terus mengalun, meski tubuh Abah menggigil karena belum makan sejak pagi.

Di tempat lain, Mbah Sarno (78 tahun) juga terus berjuang di sisa usianya. Setiap hari ia berjalan dari desa ke desa, menawarkan jasa sol sepatu.Dengan tarif seadanya, hanya Rp15.000, ia kerap dianggap terlalu mahal. Akhirnya ia menulis di selembar kertas: “Sol Bayar Seikhlasnya.” Itu lebih baik baginya, daripada harus pulang dengan tangan kosong. Karena jika hari itu tak ada pelanggan, berarti tak ada makan.

Kadang, ia hanya makan garam dan nasi.
Kalau beras habis, ia pinjam ke warung, dibayar saat ada rezeki. Jika tak kuat menahan lapar, ia hanya duduk sebentar di pinggir jalan mengatur napas yang makin sulit. Rumahnya pun bukan tempat yang aman. Terbuat dari kayu yang lapuk, berdiri di atas tanah irigasi yang mudah longsor. Saat malam tiba, cahaya lilin jadi satu-satunya penerang, karena ia tak sanggup bayar listrik.

kenyamanan masa tua bersama keluarga, masih ada ratusan lansia seperti Abah Awang dan Mbah Sarno yang berjalan puluhan kilometer setiap hari hanya agar bisa makan. Mereka tak minta banyak hanya agar perut tak kosong dan atap tak runtuh. Setetes bantuanmu hari ini bisa menjadi pelita untuk masa tua mereka yang seharusnya tenang.
Yuk, bantu Abah Awang, Mbah Sarno, dan ratusan lansia lainnya agar tak lagi berjalan dalam kelaparan. Bantu mereka menikmati masa tua dengan layak dan manusiawi. Satu klikmu, bisa mengubah hidup seorang kakek yang masih menggenggam harapan di tengah gelapnya kenyataan. “Barang siapa memberi makan orang yang lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari buah surga…” (HR. Tirmidzi)
Dengan cara:
Terima Kasih Orang Baik!
Donasi dari galang dana ini juga akan digunakan untuk penerima manfaat dengan kondisi dan keadaan serupa lainnya di bawah naungan Respek Peduli Lampung.
![]()
Menanti doa-doa orang baik